Pulang Ke Kotamu. Jogjakarta
![]() |
| photo credit ensiklopedisindonesia.com |
Apa yang kepikiran pertama kali ketka dengar nama kota Jogjakarta?
Malioboro! Tugu Jogja! Kraton! Candi! Batik! Angkringan! Kopi Joossss! dan banyak tempat-tempat eksotis lainnya yang pasti menarik buat dikunjungi.
Yogya boleh dibilang kampung halaman kedua saya setelah Purworejo. Jaman kecil dulu kalau diajak dolan ke Malioboro sama bulek, saya dan beberapa sepupu langsung semangat! Padahal ujungnya paling cuma makan dawet di Pasar Bringhardjo trus pulangnya beli gelang 5000 rupiah dapat 10 biji buat oleh-oleh teman-teman sekolah pas balik ke Jakarta.
Belum lama ini saya dan beberapa sahabat berkunjung ke JogJakarta untuk liburan. It was 2D2N trip. Sengaja kami pilih untuk backpacker-an, alias jalan-jalan cara murah. Maklum, anak-anak kos, dompet pas-pasan tapi tetap butuh liburan. hehehe...
Jadi mungkin kalau ada yang mau liburan murah ke Jogja, saya akan share perjalanan saya dan sahabat-sahabat saya, siapa tahu bisa jadi gambaran buat merencanakan perjalanan, estimasi biaya dan lain-lainnya.
Untuk transportasi menuju ke sana, kami pilih Kereta Api Begawan yang harganya cuma 74ribu rupiah per trip Jakarta-Jogja. Jadi perjalanan PP itu cuma butuh 150an ribu per-orang.
Ih murah banget! nyaman gak tuhhh??? Jangan sedih sist, biarpun kelas ekonomi yang harganya segitu, kita udah bisa duduk enak di kereta yang ber-AC, tempat duduk lumayan ada busanya, walaupun senderannya pasrah alias gak bisa di stel sesuai mau kita. Pelayanannya juga hampir sama kaya kereta api kelas bisnis, pokoknya masih bisa tidur nyenyak selama kira-kira 7 jam perjalanan. Tapi kereta api Begawan ini gak ada di Stasiun Gambir dan Stasiun Tugu, jadi kami naik dari stasiun asal Pasar Senen, Jakarta dan akan berhenti di Stasiun akhir, Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta.
Selama perjalanan, seperti biasanya, kereta berhenti di beberapa stasiun besar seperti Cikampek, Cirebon, Purwokerto....
Lumayan, ada waktu buat turun dari kereta buat lempengin kaki dan ngerokok(walaupun sebentar karena kereta berhenti di stasiun besar cuma 5-15 menit). Aturan ketat sekarang untuk setiap perjalanan kereta api kelas apapun : NO SMOKING! Dulu mungkin masih bisa ngerokok di dekat pintu, depan toilet, dalam gerbong, atau di resto KA-nya, sekarang gak boleh sama sekali! Bagus sih, jadi perjalanan bebas asap rokok, gak ganggu penumpang yang bukan perokok juga kan. Apalagi kadang di gerbong ada balita dan anak-anak, pasti gak nyaman dan kotor nanti. Jadi, sebagai perokok budiman, saya dan teman-teman ngerokoknya di tempat yang sudah disediakan, manfaatin waktu pas kereta kebetulan berhenti. hehehhe...
Sebelum berangkat kami sudah bikin list aktifitas dan tempat-tempat yang mau kami kunjungi. Begitu pula halnya dengan penginapan dan transportasi yang kami butuhkan selama di sana. Dengan bantuan YogYes.com kami bisa cari penginapan dan transportasi yang sesuai dengan budget. Bukan cuma itu, kami juga akhirnya memutuskan untuk sewa mobil plus paket turnya yang sumpah murah! Cuma bayar 425ribu rupiah, kami diantar ke candi Prambanan, Borobudur, Merapi Lava Tour, City Tour, istana Ratu Boko (sayangnya kami tidak sempat mampir ke Istana ratu Boko saat itu karena waktu yang gak memungkinkan). Harga tersebut sudah termasuk mobil (avanza / innova), bbm, dan drivernya, belum termasuk tiket masuk ke tujuan wisata dan yaahh makan siang plus tip laah buat pak drivernya.Still, i said it was real cheap karena harga itu kami tanggung ber-7.
Buat penginapan, kami pilih yang menawarkan satu rumah full yang kapasitasnya cukup untuk kami ber-7. Waktu itu kami sewa penginapan Rumah Kaka di daerah Jalan Palagan Tentara Pelajar, Jogja. Jaraknya sekitar 7-8km dari pusat kota Jogja. Harga per-malamnya adalah 600 ribu rupiah. Rumah itu punya 3 kamar tidur, 1 kamar mandi, dapur, car port, ruang makan dan ruang tamu. Aseli, nyaman banget! Berasa di rumah 'kakak' sendiri karena sudah lengkap ada alat dapur, perabot makan, disediakan handuk, sarapan (roti tawar beserta selainya, teh, susu, kopi) dan pak - siapa yaa saya lupa namanya - sebagai penjaga rumah yang siap membantu kita kalau kita butuh apa-apa. And yes again, harga segitu murah karena kita bagi ber-7 lagi!! ahahahahaa....
For reservation kalian bisa liat di situs Yogyes.com atau langsung ke rumahkaka.com , pemiliknya ramah banget dan waktu pulang dari sana, kita dapet souvenir Mug tulisan Rumah Kaka. Ihiuyy, lumayan buat ngopi di kosan.
| photo credit: rumahkaka.com |
| photo credit: rumahkaka.com |
| photo credit: rumahkaka.com |
| photo credit: rumahkaka.com |
Kami sampai di stasiun Lempuyangan, Jogja sekitar pukul 20.00 wib, dari sana kami pesan taksi online menuju ke penginapan, untuk itu kami harus berjalan kurang lebih 500 meter ke luar area stasiun karena perjanjian tidak tertulis antara para driver jasa transportasi konvensional dan online, taksi atau ojek online dilarang masuk area stasiun.
Sesampainya di penginapan, bapak yang jaga penginapan (aduh nyesel saya, lupa sama nama si bapak yang baik banget itu) sudah menunggu, beliau lalu memberikan kami 'tur singkat' perkenalan dengan penginapan itu. Eh iya, saya belum bilang ya, kamar mandinya ada water heaternya lhoooo... tapi gak terlalu ngaruh buat saya sih, abis ini kan masih di daerah kota, jadi masih kerasa panas suhunya. Kecuali kalau di daerah Kaliurang , pasti butuh air panas buat mandi! Setelah selesai kasih perkenalan, si bapak kembali ke tempat beliau tidur, yaitu di samping rumah penginapan ini (di sebelah kanan penginapan ada kamar kecil kaya kontrakan gitu buat tempat si bapak dan istrinya tidur) makanya gampang kalau mau minta tolong beliau. Malam itu kami masak makan malam sendiri karena sudah lengkap ada gas dan peralatan dapur serta peralatan makannya. Bahan makanan kami beli sebelumnya di mini market saat perjalanan dari stasiun tadi. Masak apa? biasaaaa spesial khas anak kos : Mie Instant! Hahahahahhaa....
Yang penting perut keisi, jadi bisa istirahat enak malam itu.
Transportasi Jakarta-Jogja:
KA Bengawan Pasar Senen - Lempuyangan Rp. 74.000
Penginapan:
Rumah Kaka Guest House, Palagan Jogjakarta (08179425555)
Rp. 600.000 per-malam
Sewa Mobil & Paket Tur :
AAFI Transport (081226985885)
Rp. 425.000
Transportasi Jakarta-Jogja:
KA Bengawan Pasar Senen - Lempuyangan Rp. 74.000
Penginapan:
Rumah Kaka Guest House, Palagan Jogjakarta (08179425555)
Rp. 600.000 per-malam
Sewa Mobil & Paket Tur :
AAFI Transport (081226985885)
Rp. 425.000
Pagi pertama di Jogja.
Driver yang akan mengantar kami jalan-jalan seharian sudah jemput di penginapan sekitar jam 8 pagi. Sengaja mau berangkat pagi, biar bisa dapat semua tempat-tempat yang sudah dijadwalkan. Tapi yaahh, namanya perempuan, mau piknik dandannya lama, ngantri catokan! bwhihihihihi...
Adalah Pak Imam, Driver ramah (orang jogja ramah-ramah dan sopan banget lho!) yang harus nunggu sekitar setengah jam sampai akhirnya semua dari kami siap berangkat!
![]() |
sibuk dandan! ![]() |
Borobudur adalah candi Buddha terbesar di dunia. Di dunia lhooo!! Oleh UNESCO, Borobudur dimasukkan ke daftar Situs Warisan Dunia. Untuk menghormati dan menghargai bangunan Maha Karya ini, sejak awal tahun 2010, pihak pengelola candi Borobudur mengharuskan setiap pengunjung yang memakai celana atau rok pendek untuk memakai kain sarung yang disediakan. Jadi disana semua pengunjung pakai kain seragaman. Seru!
Kalau mau kesana, jangan lupa pake sunblock, karena panasnya pake banget! 🤣 Tapi gak perlu khawatir, di luar gerbang masuk ada banyak orang yang menawarkan penyewaan payung. 1 payung dihargai 10 ribu rupiah. Di seputaran Candi Borobudur ada dua candi lainnya, Candi Pawon dan Candi Mendut. Mereka disebut Candi Tiga Serangkai. Borobudur ini keren banget, dari awal dibangun sampai dengan sekarang, bangunan magis ini sudah melewati beberapa kerusakan baik karena alam atau disengaja oleh manusia-manusia yang gak bertanggungjawab.
Menurut cerita, Borobudur kira-kira dibangun sekitar jaman 750 - 850 M, lalu sempat terkubur dan terlantar berabad-abad. Tahun 1814 ditemukan lagi oleh pemerintah Hindia Belanda pada saat itu, 1935 selesai digali keseluruhan bagian candi sehingga bisa terlihat. Pada saat itu artefak-artefak dan beberapa bagian candi banyak yang dicuri, akhirnya sebagian ditempatkan di museum. Malah ada beberapa bagian dari Borobudur yang dipajang di salah satu museum di Thailand, karena tahun 1896, Raja Thailand pada saat itu minta sama Belanda beberapa arca, dikasihhhh dooonnnggg! shuwe gak tuh!
Tahun 1985 Borobudur juga pernah di bom sama kelompok islam garis keras, pelakunya dihukum seumur hidup. Pas gunung Merapi meletus, Borobudur terkena dampaknya karena jaraknya cuma 28 km dari Merapi. Abu vukaniknya nutupin seluruh bagian candi dan seluruh tanaman dan pepohonan sekitar candi mati. Belum lagi gempa besar yang pernah melanda Jogja. Tapi Borobudur tetap kokoh berdiri megah sampai sekarang. Keren kan.
Ketika kami menuju parkiran keluar dari komplek Candi Borobudur, kami harus berjalan melewati 'pasar kecil' tempat para pedagang menjajakan oleh-oleh dan souvenir. Setelah membeli beberapa souvenir (jangan lupa, kalau belanja di sana, ditawar! hehehe...), kami mampir untuk makan siang. Ada sederetan warung sederhana yang menjajakan menu khas seperti Nasi Pecel, Gudeg, dan lain-lain. Harga? Don't worry, murah kok, standar anak kos, 15 ribu sudah dapat sepiring Nasi Pecel lengkap dengan lauk pauk dan segelas es teh manis!
Candi Borobudur
Tiket Masuk
Wisatawan Domestik :
Rp. 30.000 (Umum Dewasa / 6 tahun keatas)
Rp. 12.000 (Pelajar dan Anak Kecil/ 6 tahun kebawah)
kalau masih bayi belum ditarik tiket sih kayanya..
Wisatawan Asing :
USD 20$ (Dewasa)
USD 10$ (Anak-anak)
Jam Operasional : 06.00 - 17.00 WIB

Candi Prambanan
Tiket Masuk
Wisatawan Domestik :
Rp. 30.000 (Umum Dewasa)
Rp. 12.500 (Anak-anak)
Wisatawan Asing :
USD 18$ (Dewasa)
USD 9$ (Anak-anak)
Jam Operasional : 06.00 - 17.00 WIB
"Pokoknya kalo ke Jogja gw HARUS ke Prambanan dan Borobudur, tempat yang lainnya terserah deh..." begitu kira-kira.
Sebenarnya Pak Imam menawarkan kami untuk ke Merapi Lava Tour, ke Museum Merapi, Museum Sisa Hartaku, atau ke Desa Kinahrejo, bekas tempat tinggal Mbah Maridjan, Sang Juru Kunci Merapi yang meninggal ketika Merapi erupsi tahun 2010 silam. Nyobain naik Jeep atau Motor Trail di sana. Tapi waktu ga memungkinkan, karena perjalanan kesana dari Prambanan butuh waktu kira-kira 2-3 jam. Jadi kami putuskan untuk kembali ke kota saja. Lain waktu seru-seruan naik Jeep di Merapi Lava Tour masuk list itinerary kami!
Sampai di dalam kota lagi, kami minta Pak Imam untuk mampir sebentar ke Jalan Malioboro. Rencananya kepengen makan jajanan depan Pasar Bringhardjo, tapi ga keburu juga waktunya karena pasar tutup jam 4 sore. Akhirnya kami singgah ke Hamzah Batik (dulu Mirota Batik), pusat souvenir di ujung Jalan Malioboro. Mirota (pardon me, saya sudah terbiasa menyebutnya Mirota dari jaman kecil, jadi kalau nyebut Hamzah agak kagok... hehe...) adalah one-stop shopping place di Jogja. Setiap main ke Malioboro, saya selalu menyempatkan diri untuk mampir kesini, karena selain lengkap dan ga perlu nawar harga seperti kalau saya belanja di pedagang kaki lima sepanjang Malioboro, tempat ini unik banget! Konsep budaya Jawa sangat kental diterapkan di sini. Pas masuk pintu depan Mirota, harum dupa yang dibakar dan wewangian kembang langsung kecium. Syerem? hahahhaaa, awalnya iya, tapi mungkin karena saya sudah sangat terbiasa dari jaman kecil dulu (namanya juga orang jawa, bau beginian syudahh biyasyyaahh... hahhhaha...). Ornamen dan pajangan-pajangan yang ada juga 'jawa' banget. Semua pegawainya kebanyakan memakai pakaian adat Jawa, alunan musik tradisional jawa sayup-sayup diputar sebagai 'hiburan', trus, jangan kaget kalau pas di dalam nanti kalian lihat ada sesajen lengkap dengan bunga setaman, dupa dan sejenisnya yang di letakkan di beberapa tempat khusus. Pokoknya masuk kesini pertama kali kaya belanja ditemenin ritual jawa deh. hihihihi... Dan itu justru yang bikin saya selalu merasa tertarik pengen mampir, padahal dari jaman saya kecil, yang dijual yaa itu-itu aja. Ga beda sama yang dijual di sepanjang Jalan Malioboro atau Pasar Bringhardjo, yaah, beda di harga juga siihh, dan itu tadi, NO BARGAIN alias FIXED PRICE.
Mirota terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama tempat baju dan kain-kain batik. Lantai 2 adalah tempat souvenir-souvenir kerajinan tangan seperti miniatur candi, kerajinan dari kayu, peralatan dapur atau makan dari kayu, keramik-keramik, tas kain batik dan lain sebagainya. Di Lantai 3 ada restoran dan pusat kuliner Raminten. Nama Raminten di ambil dari 'nama panggung' sang pemilik butik sekaligus restoran ini. Adalah Hamzah Sulaeman, seorang seniman tari yang melanjutkan bisnis milik orangtuanya (Mirota Group). Mirota sendiri semula adalah toko kelontong dan roti, Toko "Minuman dan Roti Tawar" disingkat MIROTA. Beberapa tahun setelah ayahnya meninggal di tahun, Hamzah membuka toko Mirota Batik pada tahun 1978, sesuai dengan bidang yang ia sukai yaitu seni. Raminten adalah nama peran yang pernah ia lakoni di acara Ketoprak Komedi TVRI. Raminten itu sosok wanita paruh baya yang seksoy, suka nyinden jawa dan nari dengan pakaian lengkap adat jawa. Mungkin itu juga yang mendasari diadakannya pertunjukan Cabaret di Raminten Restoran. Pertunjukkan Cabaretnya juga unik, karena pelakonnya adalah para transgender di Jogja. Seruuuuu...
Jam 7.30 malam kami meninggalkan Malioboro untuk kembali ke penginapan. Pengen istirahat, karena kaki rasanya seperti mau patah. Iya lah, aktifitas dari jam 9 pagi sampai malam begini kebanyakan jalan kakinya. City Tour kami agendakan esok harinya. Tapi untuk jalan-jalan di seputaran kota itu kami ga sewa mobil lagi, jadi kebersamaan kami dengan Pak Imam cuma sampe jam 9 malam. Makasih ya Pak, Bapak the best driver and route guide deh! Mudah-mudahan nanti kalau ada kesempatan jalan-jalan ke Jogja lagi, kami bisa ketemu Pak Imam kembali.
Sampai di penginapan kami makan malam seadanya (iya, mie instant lagi... kali ini pake nasi, hahahha...) lalu istirahat nyiapin tenaga untuk besok paginya. Eh sebenarnya sebagian kami ada yang ga langsung tidur sihh.... ritual keramas, trus nyatok rambut dulu biar besok ga kelamaan kaya tadi pagi.... perempuan!! Hahaha..
Pagi kedua di Jogja.
Jadwal hari ini adalah Jogja City Tour, alias jalan-jalan dalam kota Jogja. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Istana Kesultanan Yogyakarta sekaligus tempat tinggal Raja (sultan) dan keluarganya yang masih ngejalanin tradisi kesultanan sampai dengan hari ini. Keraton adalah pusat kebudayaan jawa, selain sebagai tempat tinggal sultan, sebagian kompleks keraton adalah merupakan museum yang menyimpan benda-benda koleksi milik kesultanan. Keraton Yogyakarta didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I, raja pertama Kesultanan Yogyakarta yang memerintah tahun 1755-1792. Bangunan keraton sangat megah dan kental sama budaya jawa. Setiap sudut, setiap benda, setiap letak bangunan kompleks memiliki filosofinya sendiri-sendiri. Sayang sekali teman-teman hari itu kurang beruntung, keraton yang biasanya dibuka sampai ke dalam kediaman sultan, hari itu sedang tutup sebagian, jadi ga bisa lihat keseluruhan kompleks keraton. Alhasil saya cuma bisa cerita sedikit tentang "dalam"nya keraton ke teman-teman yang lain karena cuma saya yang sudah sering mengunjungi tempat itu. Karena ceritanya ga pake liat penampakan aseli, jadi kurang seru. Yahhhh, maybe next trip kita bisa masuk sampai ke dalam ya guys, jadi bisa liat-liat langsung kehidupan abdi dalem, pertunjukan gamelan, dan lain-lainnya.
Keraton Ngayogyakarta Hadiningkrat
Jam Operasional:
Senin - Minggu (kecuali Jumat) 08.00 - 14.00 WIB,
Jumat 08.00 - 12.00 WIB
Harga Tiket Masuk:
Rp. 7000 (Wisatawan Domestik)
Rp. 15.000 (Wisatawan Asing)
Rp. 3000 (Tiket Kamera)
Setelah jalan-jalan sebentar dalam kompleks keraton, kami menuju ke beberapa museum dekat lokasi keraton. Sebenarnya sih museum-museum itu memang masih disebut "kompleks keraton kalau dilihat dari tembok-tembok besar yang mengelilingi area itu. Menurut cerita bapak tukang becak yang kebetulan bertempat tinggal di belakang keraton, beberapa area yang sebenarnya adalah tanah keraton diperbolehkan untuk ditempati oleh rakyat dengan ketentuan tidak diperbolehkan membangun melebihi yang awal ditempati dan harus seijin kesultanan.
"ini punyanya kesultanan, tapi boleh ditempati sama kami. sampe kapan? nah itu terserah sultan, kalau nanti suatu saat sultan atau kesultanan butuh dan badhe dipundut maleh, nggih monggo., rakyat manut wae.. (kalo mau diambil lagi, ya silahkan.. rakyatnya nurut aja)" gitu kata si bapak.
Museum Kereta Keraton yang kami kunjungi letaknya ga jauh dari keraton, tepatnya di Jalan Rotowijayan, atau sebelah barat keraton. Museum ini menurut sejarah sudah ada sejak pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII. Ada sekitar 20an lebih koleksi kereta kesultanan yang disimpan di museum ini. Kereta-kereta ini sudah berumur puluhan bahkan ada yang ratusan tahun. Beberapa masih dipakai untuk acara-acara besar kesultanan, tapi beberapa sudah tidak boleh dipakai lagi mengingat usia kereta yang sudah terlalu tua dan sejarah-sejarah yang melekat pada kereta-kereta tersebut. Koleksi-koleksi ini dikelompokkan menjadi dua, yaitu kereta-kereta buatan luar negeri atau Eropa (Belanda, Inggris, Jerman) dan buatan dalam negeri. Semua kereta disana punya nama kehormatan, seperti Nyai Jimat, Kiai Manik Retno, Kiai Garuda Yeksa, Kyai Ratapralaya, Kiai Jolodoro. Dari seluruh kereta yang ada, kereta Kanjeng Nyai Jimat adalah kereta tertua. Kereta buatan Belanda tahun 1750 yang merupakan hadiah dari Gubernur Jenderal Jacob Mossel dari Spanyol. Kereta ini dipakai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I sampai dengan Sri Sultan Hamengku Buwono III. Jadi kira-kira, Kanjeng Nyai Jimat dipakai sebagai kendaraan sultan dari tahun 1755-1814, setelah itu kereta itu dipensiunkan dan di simpan sebagai pusaka keraton. Kanjeng Nyai Jimat sampai sekarang kondisinya masih bagus dan beberapa bagian masih aseli seperti pegasnya yang terbuat dari kulit kerbau. Setiap tanggal 1 suro atau muhharam (penanggalan jawa), semua kereta yang termasuk pusaka keraton akan dimandikan atau dibersihkan. Ritual tersebut disebut Jamasan.
Museum Kereta Keraton
Jam Operasional :
Senin-Minggu 09.00 - 16.00 WIB
Harga Tiket Masuk :
Rp. 5000
Izin photo : Rp. 1000/kamera
Dari Museum Kereta Keraton kami kemudian diantar menuju Taman Sari Water Castle. Oh iya, becak yang kami tumpangi menawarkan mengantar kami dari keraton menuju museum kereta dan taman sari dengan biaya 10 ribu rupiah per-becak. Waktu itu ada empat becak yang mengantar kami. Tapi karena kasihan, lumayan agak jauh juga jaraknya soalnya, jadi bolehlah nanti kalo kalian naik becak juga, ditambahin ongkosnya. Yaahh, kami pikir mereka juga bantu sedikit jadi tour guide dadakan walau sebentar. Sebenarnya mereka menawarkan untuk menunggu kami selama kami jalan-jalan di Taman Sari, untuk kemudian mengantar kami ke tempat oleh-oleh seperti pusat batik dan jajanan bakpia. Tapi kami tolak karena memang kami akan agak lama di Taman Sari, ditambah jadwal beli oleh-oleh masih nanti. Biasanya mereka nanti akan dapat tips dari pemilik toko batik atau bakpia karena bawa pelanggan untuk mengunjungi atau berbelanja ke tempat mereka, jadi agak sedikit maksa waktu itu tukang becaknya. Tapi kalau memang kalian ga mau, tolak halus aja, mereka pasti ngerti kok.
Taman Sari Water Castle atau Istana Air Taman Sari adalah bekas kebun atau taman istana Keraton Yogyakarta jaman dahulu. Sampai sekarang pun keindahannya masih kelihatan. Konon dulu area ini luas banget, 10 hektar dengan 57 bangunan! sekarang sisanya dikiiittttt banget, karena sebagian sudah berubah menjadi pemukiman. Dulu itu ada danau buatan yang disebut sebagai Segaran, banyak jenis ikan dipelihara dan juga dulu jadi tempat Sultan dan keluarganya naik sampan. Sekarang area tersebut sudah jadi pemukiman. Orang-orang Jogja menyebutnya Kampung Taman. Sisa-sisa dari Taman Sari saat ini yang masih bisa dilihat cuma bagian Gedhong Gapura Hageng (Gerbang utama taman), Gedhong Gapura Panggung (Gapura berhiasakan kepala naga), Pulo Kenongo (dulunya pulau buatan yang ditanami bunga kenanga), Umbul Pasiraman/Binangun/Winangun (kolam pemandian keluarga Raja), Pulo Cemethi (tempat dulu sultan bermeditasi), Sumur Gumuling (dulu difungsikan sebagai mesjid), Urung-urung Timur dan urung-urung Gemuling (lorong-lorong / terowongan bawah tanah yang dulunya menghubungkan Pulo Panembung, Pulo Kenongo dan Sumur Gumuling). Bangunan lainnya sekarang sudah tinggal puing atau berubah atau menyatu dengan pemukiman penduduk.
Sumpah, keseluruhan bangunan Taman Sari ini keren banget arsitekturnya, walaupun banyak yang tinggal puing dan ada pula yang kondisinya kurang terawat, tapi tetap aja ngebayangin jaman itu sudah ada kemegahan macam begini itu mind blowing banget.
Sayangnya waktu kami di Taman Sari, cuaca hujan, jadi tidak memungkinkan untuk foto-foto banyak. jadi sebagian foto saya unggah dari perjalanan saya pribadi sebelumnya.
Taman Sari Water Castle
Jam Operasional :
Senin - Minggu 08.00 - 17.00 WIB
Harga Tiket Masuk:
Rp. 5000 (Wisatawan Lokal)
Rp. 12.000 (Wisatawan Asing)
Rp. 2000 (Tiket kamera)

Menurut cerita, Borobudur kira-kira dibangun sekitar jaman 750 - 850 M, lalu sempat terkubur dan terlantar berabad-abad. Tahun 1814 ditemukan lagi oleh pemerintah Hindia Belanda pada saat itu, 1935 selesai digali keseluruhan bagian candi sehingga bisa terlihat. Pada saat itu artefak-artefak dan beberapa bagian candi banyak yang dicuri, akhirnya sebagian ditempatkan di museum. Malah ada beberapa bagian dari Borobudur yang dipajang di salah satu museum di Thailand, karena tahun 1896, Raja Thailand pada saat itu minta sama Belanda beberapa arca, dikasihhhh dooonnnggg! shuwe gak tuh!
Tahun 1985 Borobudur juga pernah di bom sama kelompok islam garis keras, pelakunya dihukum seumur hidup. Pas gunung Merapi meletus, Borobudur terkena dampaknya karena jaraknya cuma 28 km dari Merapi. Abu vukaniknya nutupin seluruh bagian candi dan seluruh tanaman dan pepohonan sekitar candi mati. Belum lagi gempa besar yang pernah melanda Jogja. Tapi Borobudur tetap kokoh berdiri megah sampai sekarang. Keren kan.
Ketika kami menuju parkiran keluar dari komplek Candi Borobudur, kami harus berjalan melewati 'pasar kecil' tempat para pedagang menjajakan oleh-oleh dan souvenir. Setelah membeli beberapa souvenir (jangan lupa, kalau belanja di sana, ditawar! hehehe...), kami mampir untuk makan siang. Ada sederetan warung sederhana yang menjajakan menu khas seperti Nasi Pecel, Gudeg, dan lain-lain. Harga? Don't worry, murah kok, standar anak kos, 15 ribu sudah dapat sepiring Nasi Pecel lengkap dengan lauk pauk dan segelas es teh manis!
Candi Borobudur
Tiket Masuk
Wisatawan Domestik :
Rp. 30.000 (Umum Dewasa / 6 tahun keatas)
Rp. 12.000 (Pelajar dan Anak Kecil/ 6 tahun kebawah)
kalau masih bayi belum ditarik tiket sih kayanya..
Wisatawan Asing :
USD 20$ (Dewasa)
USD 10$ (Anak-anak)
Jam Operasional : 06.00 - 17.00 WIB

Tempat kedua destinasi kami adalah Candi Prambanan. Candi Hindu terbesar di Indonesia dan masuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO juga. Candi Prambanan sebenarnya punya nama asli, yaitu Shiwagrha, yang dalam bahasa sanskerta adalah Rumah Siwa. Iya, candi ini sepertinya dibangun sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa, Dewa Pemusnah. Makanya dalam kompleks ini, bangunan yang paling besar dan tinggi adalah Candi Siwa sebagai candi utama, diapit oleh Candi Brahma di sebelah utara, dan Candi Wishnu di sebelah selatan. Dalam ajaran Hindu dikenal tiga dewa tertinggi ( Trimurti), yaitu Brahma, Sang Pencipta, Wishnu, Sang Pemelihara dan Siwa, Sang Pemusnah.
Candi Prambanan sering juga disebut sebagai Candi Roro Jonggrang, karena dalam kompleks candi terdapat arca Dewi cantik yang disebut-sebut dalam cerita rakyat Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Di dalam kompleks Candi Prambanan juga terdapat Candi Sewu (kira-kira 800 meter dari candi Prambanan), yang dalam cerita legenda tadi digambarkan sebagai seribu candi yang gagal dibangun oleh Pangeran Bandung Bondowoso sebagai persyaratan untuk meminang Putri Roro Jonggrang. Sewu diartikan seribu dalam bahasa Jawa, walaupun sebenarnya Candi Sewu hanya memiliki 249 candi. Terlepas dari cerita legenda itu benar atau tidak, tetapi cerita sejarah yang saya tahu bahwa arca yang sering disebut sebagai arca Dewi Roro Jonggrang itu adalah arca Durga Mahisasura Mardini yaitu Dewi Penakluk Asura. Durga perwujudan dari Parwati, istri Dewa Siwa. Ia digambarkan memiliki delapan tangan. Dari mana bisa akhirnya orang-orang menyebutnya dan mengaitkan dengan cerita Roro Jonggrang, saya kurang tahu.Candi Prambanan
Tiket Masuk
Wisatawan Domestik :
Rp. 30.000 (Umum Dewasa)
Rp. 12.500 (Anak-anak)
Wisatawan Asing :
USD 18$ (Dewasa)
USD 9$ (Anak-anak)
Jam Operasional : 06.00 - 17.00 WIB
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore ketika kami keluar dari area parkir Candi Prambanan. Wah, pengaturan waktu yang ga efisien. hahahhaa... Terlalu lama di Borobudur dan Prambanan tadi. Kunjungan ke Candi Ratu Boko memang sengaja ga kami ambil karena kami sepakat Ratu Boko bagus ketika Sunrise, dan agak mistis ketika Sunset. Tapi perjalanan jika ingin melihat sunrise pasti bakalan jadi pe-er banget, mengingat kami semua MALAS BANGUN PAGI BUTA, apalagi untuk hiking (lokasi Ratu Boko berada di area yang tinggi, sehingga pengunjung harus jalan menanjak untuk menuju ke sana). Sedangkan Sunset di sana, bakal kebayang yang mistis-mistis yang bikin nanti malah jadi perjalanan misteri. Jadi, skip aja lah sementara. Hahahaha, alasan lucu sih kedengarannya yaaa...
Tapi mungkin waktu yang terbatas dan kebetulan beberapa dari sahabat saya memang belum pernah ke Jogja dan mereka mengutamakan kunjungan ke Borobudur dan Prambanan di antara destinasi lainnya."Pokoknya kalo ke Jogja gw HARUS ke Prambanan dan Borobudur, tempat yang lainnya terserah deh..." begitu kira-kira.
Sebenarnya Pak Imam menawarkan kami untuk ke Merapi Lava Tour, ke Museum Merapi, Museum Sisa Hartaku, atau ke Desa Kinahrejo, bekas tempat tinggal Mbah Maridjan, Sang Juru Kunci Merapi yang meninggal ketika Merapi erupsi tahun 2010 silam. Nyobain naik Jeep atau Motor Trail di sana. Tapi waktu ga memungkinkan, karena perjalanan kesana dari Prambanan butuh waktu kira-kira 2-3 jam. Jadi kami putuskan untuk kembali ke kota saja. Lain waktu seru-seruan naik Jeep di Merapi Lava Tour masuk list itinerary kami!
Sampai di dalam kota lagi, kami minta Pak Imam untuk mampir sebentar ke Jalan Malioboro. Rencananya kepengen makan jajanan depan Pasar Bringhardjo, tapi ga keburu juga waktunya karena pasar tutup jam 4 sore. Akhirnya kami singgah ke Hamzah Batik (dulu Mirota Batik), pusat souvenir di ujung Jalan Malioboro. Mirota (pardon me, saya sudah terbiasa menyebutnya Mirota dari jaman kecil, jadi kalau nyebut Hamzah agak kagok... hehe...) adalah one-stop shopping place di Jogja. Setiap main ke Malioboro, saya selalu menyempatkan diri untuk mampir kesini, karena selain lengkap dan ga perlu nawar harga seperti kalau saya belanja di pedagang kaki lima sepanjang Malioboro, tempat ini unik banget! Konsep budaya Jawa sangat kental diterapkan di sini. Pas masuk pintu depan Mirota, harum dupa yang dibakar dan wewangian kembang langsung kecium. Syerem? hahahhaaa, awalnya iya, tapi mungkin karena saya sudah sangat terbiasa dari jaman kecil dulu (namanya juga orang jawa, bau beginian syudahh biyasyyaahh... hahhhaha...). Ornamen dan pajangan-pajangan yang ada juga 'jawa' banget. Semua pegawainya kebanyakan memakai pakaian adat Jawa, alunan musik tradisional jawa sayup-sayup diputar sebagai 'hiburan', trus, jangan kaget kalau pas di dalam nanti kalian lihat ada sesajen lengkap dengan bunga setaman, dupa dan sejenisnya yang di letakkan di beberapa tempat khusus. Pokoknya masuk kesini pertama kali kaya belanja ditemenin ritual jawa deh. hihihihi... Dan itu justru yang bikin saya selalu merasa tertarik pengen mampir, padahal dari jaman saya kecil, yang dijual yaa itu-itu aja. Ga beda sama yang dijual di sepanjang Jalan Malioboro atau Pasar Bringhardjo, yaah, beda di harga juga siihh, dan itu tadi, NO BARGAIN alias FIXED PRICE.
Mirota terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama tempat baju dan kain-kain batik. Lantai 2 adalah tempat souvenir-souvenir kerajinan tangan seperti miniatur candi, kerajinan dari kayu, peralatan dapur atau makan dari kayu, keramik-keramik, tas kain batik dan lain sebagainya. Di Lantai 3 ada restoran dan pusat kuliner Raminten. Nama Raminten di ambil dari 'nama panggung' sang pemilik butik sekaligus restoran ini. Adalah Hamzah Sulaeman, seorang seniman tari yang melanjutkan bisnis milik orangtuanya (Mirota Group). Mirota sendiri semula adalah toko kelontong dan roti, Toko "Minuman dan Roti Tawar" disingkat MIROTA. Beberapa tahun setelah ayahnya meninggal di tahun, Hamzah membuka toko Mirota Batik pada tahun 1978, sesuai dengan bidang yang ia sukai yaitu seni. Raminten adalah nama peran yang pernah ia lakoni di acara Ketoprak Komedi TVRI. Raminten itu sosok wanita paruh baya yang seksoy, suka nyinden jawa dan nari dengan pakaian lengkap adat jawa. Mungkin itu juga yang mendasari diadakannya pertunjukan Cabaret di Raminten Restoran. Pertunjukkan Cabaretnya juga unik, karena pelakonnya adalah para transgender di Jogja. Seruuuuu...
Jam 7.30 malam kami meninggalkan Malioboro untuk kembali ke penginapan. Pengen istirahat, karena kaki rasanya seperti mau patah. Iya lah, aktifitas dari jam 9 pagi sampai malam begini kebanyakan jalan kakinya. City Tour kami agendakan esok harinya. Tapi untuk jalan-jalan di seputaran kota itu kami ga sewa mobil lagi, jadi kebersamaan kami dengan Pak Imam cuma sampe jam 9 malam. Makasih ya Pak, Bapak the best driver and route guide deh! Mudah-mudahan nanti kalau ada kesempatan jalan-jalan ke Jogja lagi, kami bisa ketemu Pak Imam kembali.
Sampai di penginapan kami makan malam seadanya (iya, mie instant lagi... kali ini pake nasi, hahahha...) lalu istirahat nyiapin tenaga untuk besok paginya. Eh sebenarnya sebagian kami ada yang ga langsung tidur sihh.... ritual keramas, trus nyatok rambut dulu biar besok ga kelamaan kaya tadi pagi.... perempuan!! Hahaha..
Pagi kedua di Jogja.
Jadwal hari ini adalah Jogja City Tour, alias jalan-jalan dalam kota Jogja. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Istana Kesultanan Yogyakarta sekaligus tempat tinggal Raja (sultan) dan keluarganya yang masih ngejalanin tradisi kesultanan sampai dengan hari ini. Keraton adalah pusat kebudayaan jawa, selain sebagai tempat tinggal sultan, sebagian kompleks keraton adalah merupakan museum yang menyimpan benda-benda koleksi milik kesultanan. Keraton Yogyakarta didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I, raja pertama Kesultanan Yogyakarta yang memerintah tahun 1755-1792. Bangunan keraton sangat megah dan kental sama budaya jawa. Setiap sudut, setiap benda, setiap letak bangunan kompleks memiliki filosofinya sendiri-sendiri. Sayang sekali teman-teman hari itu kurang beruntung, keraton yang biasanya dibuka sampai ke dalam kediaman sultan, hari itu sedang tutup sebagian, jadi ga bisa lihat keseluruhan kompleks keraton. Alhasil saya cuma bisa cerita sedikit tentang "dalam"nya keraton ke teman-teman yang lain karena cuma saya yang sudah sering mengunjungi tempat itu. Karena ceritanya ga pake liat penampakan aseli, jadi kurang seru. Yahhhh, maybe next trip kita bisa masuk sampai ke dalam ya guys, jadi bisa liat-liat langsung kehidupan abdi dalem, pertunjukan gamelan, dan lain-lainnya.
Keraton Ngayogyakarta Hadiningkrat
Jam Operasional:
Senin - Minggu (kecuali Jumat) 08.00 - 14.00 WIB,
Jumat 08.00 - 12.00 WIB
Harga Tiket Masuk:
Rp. 7000 (Wisatawan Domestik)
Rp. 15.000 (Wisatawan Asing)
Rp. 3000 (Tiket Kamera)
Setelah jalan-jalan sebentar dalam kompleks keraton, kami menuju ke beberapa museum dekat lokasi keraton. Sebenarnya sih museum-museum itu memang masih disebut "kompleks keraton kalau dilihat dari tembok-tembok besar yang mengelilingi area itu. Menurut cerita bapak tukang becak yang kebetulan bertempat tinggal di belakang keraton, beberapa area yang sebenarnya adalah tanah keraton diperbolehkan untuk ditempati oleh rakyat dengan ketentuan tidak diperbolehkan membangun melebihi yang awal ditempati dan harus seijin kesultanan.
"ini punyanya kesultanan, tapi boleh ditempati sama kami. sampe kapan? nah itu terserah sultan, kalau nanti suatu saat sultan atau kesultanan butuh dan badhe dipundut maleh, nggih monggo., rakyat manut wae.. (kalo mau diambil lagi, ya silahkan.. rakyatnya nurut aja)" gitu kata si bapak.
Museum Kereta Keraton yang kami kunjungi letaknya ga jauh dari keraton, tepatnya di Jalan Rotowijayan, atau sebelah barat keraton. Museum ini menurut sejarah sudah ada sejak pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII. Ada sekitar 20an lebih koleksi kereta kesultanan yang disimpan di museum ini. Kereta-kereta ini sudah berumur puluhan bahkan ada yang ratusan tahun. Beberapa masih dipakai untuk acara-acara besar kesultanan, tapi beberapa sudah tidak boleh dipakai lagi mengingat usia kereta yang sudah terlalu tua dan sejarah-sejarah yang melekat pada kereta-kereta tersebut. Koleksi-koleksi ini dikelompokkan menjadi dua, yaitu kereta-kereta buatan luar negeri atau Eropa (Belanda, Inggris, Jerman) dan buatan dalam negeri. Semua kereta disana punya nama kehormatan, seperti Nyai Jimat, Kiai Manik Retno, Kiai Garuda Yeksa, Kyai Ratapralaya, Kiai Jolodoro. Dari seluruh kereta yang ada, kereta Kanjeng Nyai Jimat adalah kereta tertua. Kereta buatan Belanda tahun 1750 yang merupakan hadiah dari Gubernur Jenderal Jacob Mossel dari Spanyol. Kereta ini dipakai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I sampai dengan Sri Sultan Hamengku Buwono III. Jadi kira-kira, Kanjeng Nyai Jimat dipakai sebagai kendaraan sultan dari tahun 1755-1814, setelah itu kereta itu dipensiunkan dan di simpan sebagai pusaka keraton. Kanjeng Nyai Jimat sampai sekarang kondisinya masih bagus dan beberapa bagian masih aseli seperti pegasnya yang terbuat dari kulit kerbau. Setiap tanggal 1 suro atau muhharam (penanggalan jawa), semua kereta yang termasuk pusaka keraton akan dimandikan atau dibersihkan. Ritual tersebut disebut Jamasan.
Museum Kereta Keraton
Jam Operasional :
Senin-Minggu 09.00 - 16.00 WIB
Harga Tiket Masuk :
Rp. 5000
Izin photo : Rp. 1000/kamera
Dari Museum Kereta Keraton kami kemudian diantar menuju Taman Sari Water Castle. Oh iya, becak yang kami tumpangi menawarkan mengantar kami dari keraton menuju museum kereta dan taman sari dengan biaya 10 ribu rupiah per-becak. Waktu itu ada empat becak yang mengantar kami. Tapi karena kasihan, lumayan agak jauh juga jaraknya soalnya, jadi bolehlah nanti kalo kalian naik becak juga, ditambahin ongkosnya. Yaahh, kami pikir mereka juga bantu sedikit jadi tour guide dadakan walau sebentar. Sebenarnya mereka menawarkan untuk menunggu kami selama kami jalan-jalan di Taman Sari, untuk kemudian mengantar kami ke tempat oleh-oleh seperti pusat batik dan jajanan bakpia. Tapi kami tolak karena memang kami akan agak lama di Taman Sari, ditambah jadwal beli oleh-oleh masih nanti. Biasanya mereka nanti akan dapat tips dari pemilik toko batik atau bakpia karena bawa pelanggan untuk mengunjungi atau berbelanja ke tempat mereka, jadi agak sedikit maksa waktu itu tukang becaknya. Tapi kalau memang kalian ga mau, tolak halus aja, mereka pasti ngerti kok.
Taman Sari Water Castle atau Istana Air Taman Sari adalah bekas kebun atau taman istana Keraton Yogyakarta jaman dahulu. Sampai sekarang pun keindahannya masih kelihatan. Konon dulu area ini luas banget, 10 hektar dengan 57 bangunan! sekarang sisanya dikiiittttt banget, karena sebagian sudah berubah menjadi pemukiman. Dulu itu ada danau buatan yang disebut sebagai Segaran, banyak jenis ikan dipelihara dan juga dulu jadi tempat Sultan dan keluarganya naik sampan. Sekarang area tersebut sudah jadi pemukiman. Orang-orang Jogja menyebutnya Kampung Taman. Sisa-sisa dari Taman Sari saat ini yang masih bisa dilihat cuma bagian Gedhong Gapura Hageng (Gerbang utama taman), Gedhong Gapura Panggung (Gapura berhiasakan kepala naga), Pulo Kenongo (dulunya pulau buatan yang ditanami bunga kenanga), Umbul Pasiraman/Binangun/Winangun (kolam pemandian keluarga Raja), Pulo Cemethi (tempat dulu sultan bermeditasi), Sumur Gumuling (dulu difungsikan sebagai mesjid), Urung-urung Timur dan urung-urung Gemuling (lorong-lorong / terowongan bawah tanah yang dulunya menghubungkan Pulo Panembung, Pulo Kenongo dan Sumur Gumuling). Bangunan lainnya sekarang sudah tinggal puing atau berubah atau menyatu dengan pemukiman penduduk.
Sumpah, keseluruhan bangunan Taman Sari ini keren banget arsitekturnya, walaupun banyak yang tinggal puing dan ada pula yang kondisinya kurang terawat, tapi tetap aja ngebayangin jaman itu sudah ada kemegahan macam begini itu mind blowing banget.
Sayangnya waktu kami di Taman Sari, cuaca hujan, jadi tidak memungkinkan untuk foto-foto banyak. jadi sebagian foto saya unggah dari perjalanan saya pribadi sebelumnya.
Taman Sari Water Castle
Jam Operasional :
Senin - Minggu 08.00 - 17.00 WIB
Harga Tiket Masuk:
Rp. 5000 (Wisatawan Lokal)
Rp. 12.000 (Wisatawan Asing)
Rp. 2000 (Tiket kamera)

Hari sudah menjelang sore ketika kami selesai mengelilingi Taman Sari. Sore terakhir di Jogja kami rencanakan untuk jalan-jalan sepanjang Malioboro, sekalian cari oleh-oleh buat keluarga dan teman-teman di Jakarta. Buat saya yang sering ke Jogja agak bingung sih mau belanja apa, jadi saya memilih menunggu di depan Mirota batik while yang lainnya menjelajah Malioboro untuk shopping. Hehehe...
Semula setelah selesai belanja, kami mau ke alun-alun untuk naik sepeda hias lampu, tapi karena hujannya turun lagi, jadi terpaksa kami urungkan niat dan akhirnya kembali ke penginapan untuk packing, siap-siap besok harus kembali ke Jakarta.
Kembali ke Jakarta kami naik kereta api yang sama. Berangkat dari stasiun Lempunyangan sekitar pukul 11.20 WIB, jadi kira-kira sampai di Jakarta sekitar pukul 20.00 WIB.
2 hari di Jogja itu ga cukup! Rasanya saat ini belum kepengen pulang, maunya sih nambah 2 hari lagi, tapi apa daya jadwal kerja ga mungkin bisa dirubah sembarangan. dan plussss, dompet udah keburu kosong buat beli berkarung-karung oleh-oleh.. hahahahhaa....
Lain waktu pasti kembali lagi Jogja buat nikmati destinasi wisata yang masih banyak banget di Jogja.
Matur Nuwun Yojo, We have such a great time and memories here! Till we meet again!
Buat teman-teman yang mau liburan, Jogja bisa jadi pilihan menarik. Apalagi sekarang banyak banget tempat wisata yang baru di Jogja. Mau pake cara backpacker-an atau jalan-jalan mewah, terserah. Yang pasti, dmana pun kalian jalan-jalan, tetap jadi turis yang budiman yaaa, yang ikut menjaga keindahan alam, kelestarian situs peninggalan, dan kebersihan sekitar. Jangan lupa jaga selalu sopan santun dan tata krama juga!
Sampai ketemu di edisi jalan-jalan berikutnya. Au revoir!
Pareng, kulo pamit rumiyen......












































Comments
Post a Comment