Depok, Sisa Warisan Belanda Yang Tertinggal


Depok. Kota di sebelah selatan Jakarta. Sebuah kota yang beranjak maju sebagai penyangga ibukota.

Gw besar di kota ini. Nyokap sama bokap yang dua-duanya pegawai negeri alhamdulillah dulu kebetulan dapat "jatah" program perumahan dari pemerintah di sini. Dulu pertama pindah ke Depok dari Kebon Kosong, Matraman sekitar tahun 1985an, tempat tinggal gw masih kaya area kuburan. sepi, jauh dari mana-mana. Kalau mau naik angkutan umum harus rela jalan kaki berapa kilo meter dulu (menurut cerita nyokap sama bokap, karena gw ga ngalamin).
Dari penduduknya yang cuma 200an ribu di tahun segituan, sekarang udah jadi 1,8 juta jiwa! Gokil gak tuhhhhh....

Depok dan sejarah kerennya. Cerita dibalik kota kecil ini yang selalu gw bangga-banggain sama teman-teman dimana-mana. Cerita asal muasal nama dan beberapa peninggalan yang sampai saat ini masih ada dan punya daya magis. Iya, gw bilang magis karena ketika kita mengunjungi beberapa peninggalan Depok tempo dulu yang masih ada, kita seakan ketarik balik ke jaman yang sama ketika bangunan-bangunan itu masih jaya di jamannya.

Pertama kali tertarik untuk tahu sejarah Depok pas dulu jaman gw sekolah SMP. Penasaran karena tiap kali orang nanya "tinggal dimana?" dan gw jawab "di Depok", pasti sebagian besar langsung berseloroh "waahh, Belanda Depok yaaa..."
Saat itu cuma bisa nyengir sok ngerti, padahal dalam hati ngebatin "Belanda? Do i look like bule?"... ke-pede-an. Tanya-tanya sama bokap tentang istilah Belanda Depok. Dulu bokap cuma cerita, zaman kolonial dulu ada seorang Belanda yang beli tanah dan datengin budak-budak dari luar pulau jawa. Budak-budak itu pada akhirnya dianggap keluarga oleh orang Belanda itu, kemudian mereka diberi nama baptis yang akhirnya jadi "Marga". Nah, orang-orang itu yang jadi cikal bakal istilah "Belanda Depok". Orang Indonesia yang "diangkat" status sosialnya menjadi seperti orang-orang Belanda pada jaman itu.

Berhubung cerita bokap dulu itu nanggung kaya makan kuaci lima biji, mulailah gw nyari-nyari info tentang sejarah kota Depok. Inget dulu tiap pulang sekolah suka ngajak teman buat jalan-jalan ke sekitaran jalan Pemuda, Depok, tempat dimana bangunan-bangunan aseli Belanda masih banyak berdiri. Dari mulai rumah-rumah penduduk, gereja, gedung-gedung sekolah. Eksotis, kaya gw... bukan itemnya, tapi cantik bentuk jadulnya.
Dulu buat cari info via internet masih impossible buat gw, gw belum pake handphone, warnet juga belum ada, wartel yang banyak (hahahhaa, ancient kan gw!), jadi tiap jalan-jalan ke sana cuma bisa liat-liat trus nebak-nebak sendiri cerita jaman dulunya itu bangunan.

Kebetulan kenal Tante Anna, dia nyokapnya teman main gw. Tante Anna banyak tahu tentang sejarah Depok, doi tinggal di Depok dari tahun 1970. Woww, dari Depok masih dikenal sebagai tempat "jin buang anak". Tante Anna bukan orang Belanda dan ga ada keturunan Belanda sama sekali. Aseli orang Kalimantan blasteran Solo, tapi pinter bikin Bitter Ballen. Jadilah suatu siang itu sambil ngemil croket ala belanda dan es teh botol boleh dibeliin di warung rokok depan rumah Tante Anna, gw dengerin cerita asal muasal kota Depok tercintah inihh...

Depok or known as Depoc, adalah kepanjangan dari De Eerste Protestante Organisatie van Christenen (Kristenen) yang artinya The First Protestant Christian Organization alias Organisasi Kristen Protestan Pertama.Wuihh ngeriiii, holland spreken brroookkk. hahahhaha...
Yes, Depok adalah salah satu kota yang dulunya dibentuk oleh seorang Belanda yang mempunyai jiwa misionaris bernama Cornelis Chastelein. Beliau mantan VOC yang kemudian mengundurkan diri karena  tidak sepaham dengan pimpinan VOC pada saat itu.
"Cornelis ini orang Belanda, tapi ga jahat..." gitu kata Tante Anna. No offence yaa, ga bermaksud bilang orang Belanda itu jahat, tapi berhubung ceritanya dulu mereka ngejajah kita, jadi "orang dulu" bilang orang Belanda itu jahat. Dan Cornelis ini adalah penganut kristen Protestan yang taat, yang awalnya berharap bahwa ia bisa memberikan pencerahan untuk orang-orang dimana ia ditugaskan (Batavia). Namun ternyata dia melihat bahwa VOC tidak melakukan hal tersebut, makanya dia memilih untuk mengundurkan diri dengan alasan kesehatan.

Jadi setelah Cornelis resign dari VOC (sekitar tahun 1691), dia beli berbidang-bidang tanah di beberapa tempat, termasuk di sekitaran wilayah yang sekarang dikenal sebagai Depok. Wilayah-wilayah kaya Sringsing, Cinere, Mampang, Karanganyar dan Depok sendiri dia jadiin satu. Area-area tersebut dia jadikan lahan pertanian dan perkebunan. Buat ngegarapnya, Cornelis mengambil tenaga kerja, atau dulu disebutnya budak, dari luar pulau Jawa seperti Bali, Makassar, kalimantan, dan Indonesia Timur.
Sempat gw tanya sama Tante Anna, "kenapa harus ambil jauh-jauh ke luar pulau Jawa? Emang di Jawa ga ada?" Tante Anna dulu ga yakin apa alasan Cornelis ambil budak-budak dari luar Jawa, jadi dia jawab ga tahu. Baru sekitar tujuh tahun kemarin gw tahu kenapa Cornelis ngambil budak-budak dari luar Jawa. Jadi ternyata ada perjanjian antara Raja Mataram dan Belanda bahwa orang-orang di pulau Jawa ga boleh dijadiin budak pada saat itu.

Budak-budak yang dibawa Cornelis dari luar Jawa itu kemudian ia pekerjakan untuk bercocok tanam dan berkebun. Cornelis adalah seorang yang berjiwa misionaris, dia menentang perbudakan. Makanya semua yang kerja sama dia ga dianggap budak, melainkan keluarga, sebab perbudakan bertentangan dengan ajaran yang dibawanya yaitu Kristen Protestan. Beberapa dari budak-budaknya kemudian ada yang akhirnya mengikuti ajaran Kristen dan oleh Cornelis mereka diberi nama baptis yang kemudian digunakan sebagai marga. Ada 12 nama baptis atau marga yang diberikan oleh Cornelis. 12 dipilih karena melambangkan 12 murid Yesus. Tapi hanya 5 nama saja yang diambil dari Alkitab (Injil) yaitu Jonathans, Joseph, Jacob, Samuel, Isakh, sisanya tetap memakai nama keluarga asli, yaitu Laurens, Loen, Leander, Soedira, Bakas, Tholense, dan Zadokh.

Tapi ga semuanya beragama kristen kok, menurut Tante Anna, ada juga beberapa dari mereka yang memeluk agama Islam seperti mandor kepercayaan dari Cornelis yaitu Jarong van Bali. Sampai sekarang, masih ada beberapa anggota keluarga keturunan dari marga-marga tersebut. Beberapa telah hilang tanpa diketahui ataupun habis karena keturunannya kebanyakan perempuan, seperti yang terjadi pada marga keluarga Zadokh. Tapi ada beberapa juga yang sekarang memilih untuk tidak lagi memakai marganya setelah peristiwa mengerikan dan menyedihkan tahun 1945. Mereka trauma.
"hah? trauma? karena apa Tan?" .
Iya, mereka trauma setelah adanya peristiwa Gedoran Depok.
"Gedoran apa? Pintu di gedor-gedor?"

Para pekerja yang bekerja untuk Cornelis memperoleh kesempatan yang tidak didapatkan oleh penduduk aseli. Mereka diajarkan bahasa Belanda dan mengadaptasi kebudayaan Belanda. Seiring berjalannya waktu, para keturunan Belanda Depok juga mendapatkan perlakuan yang eksklusif.Anak-anak mereka juga bisa bersekolah, pakai sepatu dan baju-baju bagus. Hal ini yang kemudian menimbulkan kecemburuan sosial dari para penduduk aseli. Ini juga salah satu hal yang memicu peristiwa Gedoran Depok.
Jadi, sebelum Cornelis meninggal dunia, dia bikin surat wasiat yang isinya antara lain adalah memerdekakan seluruh budak-budaknya dan memberikan harta benda berupa ternak, gamelan-gamelan Bali yang berlapis emas murni, perhiasan-perhiasan, uang, lahan dan tanah kepada mereka. 3 bulan setelah itu, tepatnya tanggal 28 Juni 1714, di usia ke-57, Cornelis meninggal dunia.
Sepeninggal Cornelis, Depok menjadi "Desa Mandiri" yang memiliki pemerintahan sendiri. Pemerintah Hindia Belanda di Batavia menyetujui dibentuknya Gemeente Bestuur (Pemerintahan Mandiri yang memiliki otonom sendiri) Depok. Mereka dipimpin oleh seorang Presiden yang dipilih tiga tahun sekali. Presiden pertama Depok adalah Gerrit Jonathans.
Waaattt? Depok punya Presiden???
Yeaapp, Depok "merdeka" duluan dari Indonesia ceritanya, yaa walaupun merdekanya "dikasih" .. tetap aja kadang suka rada sombong aja nyeritain ke orang-orang di luar Depok. hahahha....

Gemeente Bestuur Depok

Tugu Cornelis Chastelein di halaman RS Harapan Depok (dahulu adalah gedung Gemeente Bestuur)

Dua bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ada peristiwa menyedihkan yang terjadi di Depok, ya itu tadi, dikenal sebagai peristiwa Gedoran Depok. Sepasukan orang menyerang Depok, terutama di wilayah Kerkstaat dan Pasarstraat (sekarang Jalan Pemuda dan Jalan Kartini). Mereka menangkap orang-orang Belanda Depok dan merampok harta benda orang-orang Belanda Depok. Kemudian kaum laki-laki dibawa ke penjara di Paledang Bogor, sedangkan para wanita dan anak-anak dikumpulkan di Gedung Gemeente Bestuur (sekarang RS Harapan Depok), yang melawan dibunuh.
Kata Tante Anna, waktu proklamasi kemerdekaan, orang-orang Belanda Depok atau orang-orang Republik Depok ini dianggap tidak terlalu "hore" ikut memekikkan semangat kemerdekaan. Yaa barangkali karena mereka sudah mereka jaaauuuhhh sebelum Proklamasi dikumandangkan. Jadi berasa biasa aja gitu. Dan mereka dianggap antek Belanda karena kebudayaan mereka dan selama itu selalu di anak-emaskan oleh pemerintah Hindia Belanda. Ditambah kecemburuan sosial yang sudah lama dirasakan oleh penduduk aseli. Tapi belakangan, peristiwa tersebut dianggap peristiwa "perampokan" besar-besaran yang mendompleng semangat patriotisme kemerdekaan serta efek dari vacuum of power setelah proklamasi. Sebagian besar harta peninggalan Cornelis saat itu ikut hilang dirampok.

Saking traumanya atas peristiwa itu makanya beberapa dari orang-orang Belanda Depok enggan memakai nama marganya lagi, bahkan ada yang memilih untuk tidak mengingat-ingat lagi peristiwa tersebut. Sebagian dari mereka diselamatkan oleh pasukan NICA yang sempat nyerang kesini lagi, walaupun banyak yang kepisah-pisah sih akhirnya. Sedih gw dengernya...
Sampai sekarang masih banyak dari mereka yang bermukim kembali di Depok setelah kembali dari Bogor. Makanya daerah Jalan Pemuda dan Jalan Kartini dikenal sebagai Depok Lama, tempat dimana orang-orang Belanda Depok tinggal.
Miris kan yaaa, bertahun-tahun yang lalu mereka diberikan kemerdekaan oleh Cornelis yang berbangsa Belanda, seorang bangsa penjajah pada saat itu, justru kemudian mereka diperlakukan seperti itu oleh orang-orang bangsanya sendiri.

Gemeente Bestuur Depok berakhir sekitar tahun 1952. Pemerintah Indonesia memberikan sejumlah uang sebagai ganti rugi. Semua tanah partikelir Depok menjadi milik pemerintah Indonesia kecuali hak-hak Eigendom (hak milik mutlak) serta beberapa bangunan seperti rumah, gereja, balai pertemuan, pemakaman, sekolah, dikembalikan kepada orang-orang Belanda Depok sesuai dengan kepemilikan menurut wasiat Cornelis sebelumnya. Orang-orang Belanda Depok dan keturunannya ada juga sebagian yang bermukim di Belanda setelah ikut orang-orang Belanda pada pulang pas jaman revolusi dulu kata Tante Anna.

Depok itu uniknya punya dua "Hari Lahir" atau Ulang Tahun.. Yang satu adalah 27 April 1999, hari dimana Kota Depok resmi menjadi Kotamadya Daerah Tk II (misah dari Kabupaten Bogor).
Yang satu lagi adalah tanggal 28 Juni 1714, hari meninggalnya Cornelis Chastelein yang dianggap sebagai hari Pembebasan Kaum Budak. Orang-orang Belanda Depok menganggap itu adalah hari Kemerdekaan mereka dan sekaligus hari lahirnya Depok, mereka menamainya sebagai Depokse Dag, Hari Depok. Jadi kalo Depok sebenarnya umurnya sudah 303 tahun, sedangkan Kotamadya Depok umurnya baru 18 tahun.
Ada yang unik juga nih, rang-orang Belanda Depok yang bermukim di Belanda punya paguyuban lhoo... Mereka sebut dengan De Dodols, singkatan dari Depok Ondervindt Doolopend Onze Liefd, artinya Depok membuat cinta kami tetap (utuh). Keren.
Eh iya, orang-orang keturunan Belanda Depok sebenarnya keberatan kalo dipanggil dengan sebutan Belanda Depok, mereka lebih memilih istilah Kaoem Depok karena mereka bilang, mereka bukan orang Belanda, tapi orang Indonesia!

Kalau mau tahu tentang sejarah kota Depok yang lengkap, kalian bisa berkunjung ke YLCC (Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein) yang ada di Jalan Pemuda Depok. Sekalian bisa lihat bangunan-bangunan bersejarah yang masih kokoh berdiri sampai dengan saat ini.
Rumah Tante Anna dulu sebenarnya ga jauh dari situ, tapi beliau pindah ke Bogor 10 tahun yang lalu karena ikut anaknya yang sudah menikah dan tinggal di sana. Sehat terus Tante Anna ⌣
Nanti boleh mampir ke rumah gw. Agak jauh sedikit ke timur (Depok Dalam), gw ga bisa bikin Bitter Ballen kaya Tante Anna, tapi Bakwan bisa laahh... hahahahha...


Salam Anak Depok ☮


Comments

Popular posts from this blog

Pulang Ke Kotamu. Jogjakarta